Laki Laki Tak (Hanya) Bercerita
Pringsewu — Ketua Pengadilan Agama (PA) Pringsewu Elfid Nurfitra Mubarok S.H.I., M.H. dalam Kultum Bina Mental (KBM) Rabu, (6/5/2026) mengutip QS. Annisa, awal Ayat 34, “Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka)”.

Ketua Pengadilan Agama Pringsewu menyampaikan dalam KBM yang disampaikan, banyak yang keliru memahami ayat tersebut, namun terlanjur menjadi patron hidup di Indonesia. Bahwa Laki laki adalah Kepala rumah tangga, sedangkan Ibu rumah tangga kerjanya hanya memasak, mencuci piring dan baju, mengurus anak. Apakah benar begitu?” tanyanya ke jamaah Musholla Al-Mahkamah PA Pringsewu.
“Mari kita lihat kehidupan mulia keluarga baginda Rasulullah SAW, Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib ra. Tangan Fatimah sering bengkak akarena setiap hari menggiling gandum sendiri untuk kebutuhan suami dan anak-anaknya, mencerminkan teladan kerja keras dan ketaatan. Ali ra juga sering membantu pekerjaan rumah tangga Fatimah Az-Zahra, termasuk menimba air, memikul beban, dan meringankan tugas harian. Meskipun dibantu, Fatimah tetap merasa kelelahan, bahkan tangannya melepuh akibat menggiling gandum, hal tersebut mendorong Ali menyarankannya meminta pembantu kepada Rasulullah SAW.

Saat diminta pembantu, Nabi SAW justru memberikan pengajaran tentang “Tasbih Fatimah” (zikir sebelum tidur tasbih 33 kali, tahmid 33 kali, dan takbir 34 kali sebelum tidur sebagai obat lelah ketika ditimpa pekerjaan yang banyak) sebagai penolong yang lebih baik daripada pembantu rumah tangga. Kisah ini menunjukkan kesederhanaan hidup rumah tangga Ali dan Fatimah, yang meskipun sederhana tetap penuh kasih sayang.
“Ketika Rasulullah mendapati tidak ada makanan di rumah, beliau tidak marah kepada Bunda Aisyah. Beliau kemudian berpuasa. Bahkan Nabi Muhammad SAW sosok pribadi yang rendah hati, mandiri dan membantu keluarga, seperti menjahit bajunya yang robek, memerah susu kambing, dan memperbaiki sandalnya sendiri. Aisyah menjelaskan bahwa saat di rumah, beliau adalah manusia biasa yang membantu pekerjaan rumah tangga”. Ini adalah teladan mulia bahwa kemuliaan seseorang tidak berkurang karena membantu pekerjaan rumah tangga.

Menurut Ketua Pengadilan Agama Pringsewu Elfid Nurfitra Mubarak, S.H.I. M.H. beliau menyampaikan bahwa, memasak bukan bukan kewajiban seorang istri, namun kewajiban seorang istri adalah menjaga harkat dan martabat keluarga, bahkan ketika suami tidak ada di rumah. Secara tidak langsung, akan memenuhi semua keperluan keluarga tidak hanya terbatas makanan yang dimasak.
MC Dwi Rian Ardiansyah A.Md menutup KBM dengan kesimpulan, Laki laki adalah pelindung kaum wanita. Egalitarian akan membuat harmonis dalam keluarga. “Melindungi, bukan menguasai” ujarnya.

